BERITA KESEHATAN

5 Jenis Obat untuk Gangguan Bipolar serta Risikonya

VIPBANDARQLOUNGE – 5 Jenis Obat untuk Gangguan Bipolar serta Risikonya

Seseorang dengan gangguan bipolar akan mengalami perubahan suasana hati yang drastis, misalnya dari terlalu girang atau euforia, kemudian depresi, dan kembali lagi ke fase euforia atau beberapa menyebutnya episode mania atau manik.

Perpaduan dari terapi dan obat diperlukan untuk mengobati seseorang dengan kondisi gangguan bipolar. Jenis obat yang kerap diresepkan oleh dokter untuk gangguan bipolar adalah mood stabilizer dan antipsikotik.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa orang-orang dengan gangguan bipolar belum tentu bisa mengonsumsi obat tersebut. Ada kemungkinan mereka memerlukan alternatif obat lain.

1. Lithium

5 Jenis Obat untuk Gangguan Bipolar serta Risikonya

Lithium menjadi obat pilihan utama untuk mengobati pasien dengan gangguan bipolar. Lithiumtermasuk dalam golongan obat mood stabilizer atau antimania, yang dapat mengurangi gejala mania dan depresi pada pasien bipolar.

Penggunaan obat ini untuk pasien anak-anak memerlukan perhatian khusus. Pasien dengan usia di bawah 7 tahun memerlukan pemeriksaan laboratorium seperti hormon tiroid, keratinin, dan kadar kalsium sebelum mengonsumsi obat lithium (Frontiers in Psychiatry, 2020).

Selain itu, penggunaan obat ini untuk ibu hamil dan menyusui juga memerlukan pertimbangan dan pemantauan. Ini karena kandungan teratogenik dalam obat dapat menyebabkan gangguan pada pembentukan jantung pada janin.

Tidak hanya itu, risiko cacat pada bayi juga tinggi bila ibu hamil mengonsumsi lithium. Namun, bila memang harus mengonsumsi obat ini, dosis obat dapat dikurangi atau sementara dihentikan saat usia kandungan 4–12 minggu.

2. Depakote

5 Jenis Obat untuk Gangguan Bipolar serta Risikonya

Depakoteatau sodium di valproex juga termasuk golongan obat mood stabilizer yang sering di berikan oleh dokter untuk pasien gangguan bipolar. Depakote di gunakan untuk mengobati gejala mania dan kejang yang berkaitan dengan gangguan bipolar.

Dilansir Everyday Health, obat ini tidak dianjurkan untuk pasien yang memiliki riwayat kesehatan berikut ini:

  • Penyakit hati.
  • Penyakit urea cycle. Ini adalah gangguan metabolisme yang menyebabkan tubuh seseorang tidak bisa mengubah zat nitrogen di tubuh menjadi amonia. Akibatnya, amonia menumpuk dan menjadi racun.
  • Penyakit genetik seperti penyakit Alpers.

Selain itu, pasien gangguan bipolar yang sebelumnya mempunyai riwayat percobaan bunuh diri juga tidak di sarankan untuk mengonsumsi obat ini. Mayo Clinic menjelaskan bahwa Depakote dapat menyebabkan munculnya perilaku ekstrem, memicu pemikiran untuk bunuh diri, atau memperburuk depresi dalam beberapa kasus. Itulah sebabnya pasien yang minum obat ini wajib memberi tahu dokter apabila mengalami perubahan emosi dan pikiran secara mendadak.

Pasien lansia sebaiknya mengonsumsi Depakote dalam dosis kecil. Alasannya untuk mengurangi efek samping yang tidak di inginkan, seperti mengantuk dan tremor.

3. Lamictal

5 Jenis Obat untuk Gangguan Bipolar serta Risikonya

Mood stabilizer yang ketiga yang sering di berikan oleh dokter kepada pasien gangguan bipolar adalah Lamictal atau lamotrigine. Jenis obat ini juga dapat di gunakan untuk mengobati pasien yang memiliki penyakit kejang (seizure disorder). 5 Jenis Obat untuk Gangguan Bipolar serta Risikonya

National Alliance on Mental Illness (NAMI) mengimbau pasien dengan gangguan bipolar yang sedang hamil dan menyusui untuk konsultasi dengan dokter sebelum memutuskan untuk mengonsumsi Lamictal. Tidak jauh berbeda dari obat lithium dan Depakote, kandungan obat Lamictal dapat masuk ke dalam air susu ibu (ASI) dan menimbulkan kecacatan seperti cleft palate atau bibir sumbing.

Pasien dengan riwayat sakit jantung juga perlu memberi tahu dokter sebelum mengonsumsi Lamictal. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menjelaskan risiko untuk mengalami aritmia tinggi pada pasien dengan riwayat sakit jantung yang mengonsumsi Lamictal.

4. Abilify

5 Jenis Obat untuk Gangguan Bipolar serta Risikonya

Abilify atau aripiprazole adalah obat antipsikotik yang di gunakan untuk mengobati pasien dengan kondisi gangguan bipolar 1, depresi mayor, skizofrenia, dan untuk anak-anak yang memiliki gejala mudah marah (irritability) yang berkaitan dengan gangguan spektrum autisme. Obat ini juga di pakai untuk mengobati gejala sindrom Tourette pada anak usia 6-18 tahun.

Di lansir MedlinePlus, pasien gangguan bipolar yang memiliki riwayat kesehatan seperti di bawah ini sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter:

  • Di abetes: Mengonsumsi Abilify dapat meningkatkan kadar gula darah.
  • Alergi.
  • Sedang hamil dan menyusui: Abilify menimbulkan risiko masalah pada bayi menjelang kelahiran.
  • Bekerja di tempat yang terekspos sinar matahari: Abilify menyebabkan tubuh sulit untuk mendinginkan diri secara otomatis di tempat yang panas.
  • Penyakit genetik fenilketonuria.

5. Tegretol

5 Jenis Obat untuk Gangguan Bipolar serta Risikonya

Tegretol atau carbamazepine adalah obat golongan antikonvulsan yang selain di gunakan untuk mengobati gejala kejang pada penyakit epilepsi, juga dapat di pakai untuk mengobati gejala gangguan bipolar.

Pasien dengan riwayat kesehatan seperti berikut perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi Tegretol:

  • Etnis Asia: Orang Asia berisiko mengalami reaksi alergi bernama sindrom Stevens-Johnson (SJS) atau toxic epidermal necrolysis (TEN). Dokter akan melakukan tes untuk memastikan apakah pasien yang bersangkutan mempunyai gen yang nantinya memicu SJS atau tidak.
  • Alat atau pil kontrasepsi: Tegretol dapat mengakibatkan penurunan efektivitas obat dan alat kontrasepsi.
  • Mengonsumsi obat pengencer darah dan MAO inhibitor (golongan obat untuk mengobati gejala kecemasan dan depresi). MAO inhibitor tidak boleh di minum bersamaan dengan Tegretol.
  • Glaukoma dan gangguan di tiroid serta organ hati.
  • Mempunyai intoleransi fruktosa: Tegretol mengandung  fruktosa.

Itulah lima jenis obat untuk pasien dengan gangguan bipolar. Mayoritas obat-obatan ini termasuk dalam golongan mood stabilizer. Beberapa obat juga di pakai untuk mengobati gejala kejang pada pasien epilepsi.

Anak kecil dan ibu hamil serta menyusui memerlukan diskusi dengan dokter perihal dosis obat dan alternatif obat lainnya. Lima obat di atas juga tidak boleh di minum dengan minuman beralkohol. Terakhir, apabila mengalami perubahan sikap atau pemikiran secara mendadak, contohnya seperti ingin melukai diri setelah mengonsumsi obat, segera beri tahu dokter.

cs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *